Labels: 30 Hari Menulis Surat Cinta, personal
Hari ke-3
Selamat sore, kamu yang baru saja menorehkan warna permanen pada kulitmu yang menurutku terlalu putih itu. Jujur aku iri dengan segala warna itu, andai bisa ikut denganmu dan meninta diri, pasti aku sudah mengemudi ke rumahmu yang hanya kuingat samar jalannya.
Hari ini hari Senin lagi, rutinitas yang biasa sudah kembali. Apa kamu masuk sekolah hari ini? Seingatku selama kamu dan aku masih terjalin membentuk kita, yang kudengar adalah berapa banyak hari yang kamu habiskan tanpa pergi ke tempat untuk menuntut ilmu itu. Ah sudahlah, lagi-lagi mengingat yang lalu. Tapi ijinkan sekali ini aku menulis kisah kita dalam surat ini, tentu saja dalam versi sederhananya.
Ingat senja di hari itu? Sabtu, saat pertama kita bertemu. Tidak terasa sebentar lagi genap setahun. Kamu berbaik hati mengemudikan motormu agar aku kembali ke rumah dengan selamat, tapi memang aku anak yang jarang merengkuh kebebasan, sekali sayapku terlepas, angin membawaku hingga nyaris hilang kendali. Pada akhirnya kita malah menepi. Kamu menemaniku makan, sementara kamu tertidur di hadapanku.
Aku ingat bagaimana mentari sore menyentuh rambutmu, membuat ujungnya bersemukan warna merah. Aku ingat caramu menatapku, senang. Aku pun ingat bagaimana kamu terbangun dengan kaget karena tidak menyangka dapat tertidur pulas di meja restoran. Tapi yang aku paling ingat, adalah saat matamu menatapku sungguh-sungguh saat aliran kisah mengalir perlahan dari bibirku.
Kamu tidak menatapku dengan padangan jijik, sebaliknya kamu memandangku seakan aku adalah poros dunia. Memintaku bercerita lebih banyak, namun tak segan menceritakan kisah milikmu sendiri. Kita berceloteh seakan kita sahabat yang lama tak berjumpa, dan saat bertatap muka, luapan cerita tak henti-hentinya membanjiri hingga malam mulai menyelimuti sisa-sisa cahaya yang tadinya masih tertinggal.
Akhirnya kamu mengantarku ke rumah temanku, karena aku tidak ingin orang tuaku tahu aku diantar naik motor, mereka pasti akan marah. Sepanjang perjalanan, kita pun masih tak berhenti. Lucu bagaimana seseorang yang baru kamu temui dapat terasa senyaman itu, mengisi kekosongan yang selama ini bersemayam tanpa alasan.
Akhirnya sampai. Aku tersenyum lembut, berusaha menahan gembira yang meluap. Tahu rasanya akhirnya menemukan seseorang yang hanya butuh satu kerjapan mata untuk mengerti dirimu? Itu yang aku rasakan.
Aku tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi awal semuanya, bahwa satu pertemuan sederhana akhirnya membelitku pada kamu, yang takut mencinta. Yang aku tahu, saat itu aku bahagia.
Mungkin cukup dulu suratku, lain kali akan kukirimkan lagi. Ingatlah aku sesekali, Sayang, ingatlah senja di hari itu. Hari di mana kamu yang terkadang penakut itu ikut jatuh dalam cinta kepadaku.
Dariku, yang hingga saat ini belum lelah mendengarkan tiap kisahmu.
cal's
3comment(s)
17-year-old dreamer not weirdo.
rootbeer, ginger bread and sparkling are my favorites but coffee and milk make up my day.
dark chocolate addict, 8-lover and believe fairytales do exist. I have scary fantasies on my mind and I bite things :3
.newest
Kepada Kamu Yang Tidak Pernah Mencintaiku
Masihkah?
on your cheek and on my nose
random facts about WAWANG SURAWANG
go go gila!
back from hiatus and cal's project :D
emo dan farewell LOL
finally posting lagi! haha post k 100 loh :D
romeo & juliet :P
uyy! long time no see *kiasan! :D*
gue cuman bisa...
.awards
.links.
.other widgets
| hit counter |