Labels: 30 Hari Menulis Surat Cinta, Jakarta, kota
Hari ke-11
Sore, kota penuh peluh. Surat cinta kali ini bertema, untuk kota. Mungkin kebanyakan orang akan menulis tentang kota-kota terkenal, kota-kota yang indah, kota-kota yang mereka ingin kunjungi, tapi entah mengapa kota pertama yang muncul di pikiranku adalah kamu, Jakarta.
Tidak banyak lagi keindahan yang bersisa di sudut-sudutmu, bahkan hampir semua orang mengakui bahwa kamu lebih banyak menunjukkan kekacauan dari pada keindahan. Tapi ada sesuatu yang membuatku selalu rindu, membuatku jatuh cinta.
Ada sesuatu yang berbeda, tentang senja yang aku lihat ketika berjalan menuju terminal TransJakarta, tentang semburat sinar yang hampir menghilang yang aku lihat dari balik jendela rumah nenekku ketika di bawahnya hanya terlihat pemandangan kacau orang-orang berjualan atau saling memaki, tentang suatu malam yang panas dan pengap namun membahagiakan saat menghadiri salah satu festival di sudut kotamu.
Aku sudah pernah pergi ke berbagai sudut dunia, bukan sombong atau menghina, namun kamu memang kota yang sudah rusak, penuh dengan kekumuhan, ramai namun sarat kekacauan, nyaris tidak aman, dan sudah kehilangan masa jayanya. Aku pun pernah melihat banyak kota yang jauh lebih cantik, lebih tertata, lebih tenang, lebih aman. Tapi kamu akan tetap menjadi kota yang akan selalu aku rindukan, kota penuh kekacauan, namun memberikan rasa damai, bahkan ketika keindahan kota lain terhampar di depanku.
Aku hanya berharap kamu akan menjadi lebih baik, agar suatu saat nanti peluhmu terusap oleh segar pepohonan yang orang-orang akan tanam untuk menyegarkanmu. Tapi meski begitu, meski perubahan itu belum hadir, ingatlah, aku sudah lama jatuh hati, dan selamanya akan selalu jatuh hati.
Kepada kamu, Jakarta. Kota tempat aku akan selalu berpulang.
cal's
1comment(s)
Labels: 30 Hari Menulis Surat Cinta, personal
Hari ke-3
Selamat sore, kamu yang baru saja menorehkan warna permanen pada kulitmu yang menurutku terlalu putih itu. Jujur aku iri dengan segala warna itu, andai bisa ikut denganmu dan meninta diri, pasti aku sudah mengemudi ke rumahmu yang hanya kuingat samar jalannya.
Hari ini hari Senin lagi, rutinitas yang biasa sudah kembali. Apa kamu masuk sekolah hari ini? Seingatku selama kamu dan aku masih terjalin membentuk kita, yang kudengar adalah berapa banyak hari yang kamu habiskan tanpa pergi ke tempat untuk menuntut ilmu itu. Ah sudahlah, lagi-lagi mengingat yang lalu. Tapi ijinkan sekali ini aku menulis kisah kita dalam surat ini, tentu saja dalam versi sederhananya.
Ingat senja di hari itu? Sabtu, saat pertama kita bertemu. Tidak terasa sebentar lagi genap setahun. Kamu berbaik hati mengemudikan motormu agar aku kembali ke rumah dengan selamat, tapi memang aku anak yang jarang merengkuh kebebasan, sekali sayapku terlepas, angin membawaku hingga nyaris hilang kendali. Pada akhirnya kita malah menepi. Kamu menemaniku makan, sementara kamu tertidur di hadapanku.
Aku ingat bagaimana mentari sore menyentuh rambutmu, membuat ujungnya bersemukan warna merah. Aku ingat caramu menatapku, senang. Aku pun ingat bagaimana kamu terbangun dengan kaget karena tidak menyangka dapat tertidur pulas di meja restoran. Tapi yang aku paling ingat, adalah saat matamu menatapku sungguh-sungguh saat aliran kisah mengalir perlahan dari bibirku.
Kamu tidak menatapku dengan padangan jijik, sebaliknya kamu memandangku seakan aku adalah poros dunia. Memintaku bercerita lebih banyak, namun tak segan menceritakan kisah milikmu sendiri. Kita berceloteh seakan kita sahabat yang lama tak berjumpa, dan saat bertatap muka, luapan cerita tak henti-hentinya membanjiri hingga malam mulai menyelimuti sisa-sisa cahaya yang tadinya masih tertinggal.
Akhirnya kamu mengantarku ke rumah temanku, karena aku tidak ingin orang tuaku tahu aku diantar naik motor, mereka pasti akan marah. Sepanjang perjalanan, kita pun masih tak berhenti. Lucu bagaimana seseorang yang baru kamu temui dapat terasa senyaman itu, mengisi kekosongan yang selama ini bersemayam tanpa alasan.
Akhirnya sampai. Aku tersenyum lembut, berusaha menahan gembira yang meluap. Tahu rasanya akhirnya menemukan seseorang yang hanya butuh satu kerjapan mata untuk mengerti dirimu? Itu yang aku rasakan.
Aku tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi awal semuanya, bahwa satu pertemuan sederhana akhirnya membelitku pada kamu, yang takut mencinta. Yang aku tahu, saat itu aku bahagia.
Mungkin cukup dulu suratku, lain kali akan kukirimkan lagi. Ingatlah aku sesekali, Sayang, ingatlah senja di hari itu. Hari di mana kamu yang terkadang penakut itu ikut jatuh dalam cinta kepadaku.
Dariku, yang hingga saat ini belum lelah mendengarkan tiap kisahmu.
cal's
3comment(s)
#30HariMenulisSuratCinta Labels: 30 Hari Menulis Surat Cinta
Hari ke-2
Selamat sore. Bagaimana harimu kali ini? Kali ini aku memberanikan diri menuliskan surat ini untukmu, untuk kamu yang tidak pernah mencintaiku.
Ingat bagaimana kita berjumpa? Awal mulanya hanya karena website yang disebut YouTube semata. Kamu dengan video-mu yang menurutku sangatlah lucu. Entah bagaimana semuanya berkembang menjadi bibit cinta di hatiku.
Mungkin sebenarnya aku pun tidak pernah mencintaimu, aku hanya jatuh hati. Atau kamu hanya berada pada saat yang tepat pada waktu yang tepat. Bagaimana pun saat kita pertama kali bertatap muka, aku sedang dirundung duka. Tetapi ada kamu, yang memperlakukanku seakan aku seseorang yang berharga.
Sudahkah kamu menemukan cintamu? Kamu berbeda, sampai saat ini pun kamu tetap lah tidak sama. Kamu akan selalu menjadi seseorang yang memperlakukanku dengan manis, meski pun kamu tidak pernah mencintaiku.
Sungguh benar aku berharap kamu akan bahagia dan menemukan cintamu yang selalu kau tunggu itu. Terima kasih sudah membantuku melupakan masa lalu dan bergerak ke depan.
Dari Sahabatmu. :)
cal's
4comment(s)
17-year-old dreamer not weirdo.
rootbeer, ginger bread and sparkling are my favorites but coffee and milk make up my day.
dark chocolate addict, 8-lover and believe fairytales do exist. I have scary fantasies on my mind and I bite things :3
.newest
Kota Penuh Peluh
Kamu; Yang Takut Mencinta
Kepada Kamu Yang Tidak Pernah Mencintaiku
Masihkah?
on your cheek and on my nose
random facts about WAWANG SURAWANG
go go gila!
back from hiatus and cal's project :D
emo dan farewell LOL
finally posting lagi! haha post k 100 loh :D
.awards
.links.
.other widgets
| hit counter |